Selama ini sabut lebih banyak terbuang sia-sia di sentra-sentra penghasil kelapa. Biasanya limbah ini hanya ditumpuk di bawah tegakan tanaman kelapa lalu dibiarkan membusuk atau kering. Pemanfaatannya paling banyak hanyalah untuk kayu bakar. Padahal sabut masih memiliki nilai ekonomis cukup baik. Secara tradisional, masyarakat telah mengolah sabut untuk dijadikan tali dan dianyam menjadi kesed. Namum volume serta nilai dari agroindustri ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan total volume sabut yang dihasilkan oleh tanaman kelapa. Nilai tertinggi (grade I) dari agroindustri sabut kelapa adalah serat lurus yang halus. Grade II serat lurus kasar. Grade III serat kusut. Selain itu masih ada hasil sampingan berupa gabus atau coco dush. Untuk memperoleh hasil ini, diperlukan sebuah unit pengolahan dengan perencanaan yang baik. Tahun 1998, awal krisis ekonomi di Indonesia, banyak pengusaha yang telah mencoba investasi untuk mengolah sabut kelapa menjadi serat dan gabus. Hasilnya belum optimal, sebab yang dihasilkan masih berupa serat kusut hingga belum bisa diekspor. Serat demikian masih harus dipres menjadi blok-blok padat hingga pengangkutannya tidak makan banyak tempat. Nilai serat akan lebih tinggi lagi kalau sudah digrade menjadi 3 macam kualitas.
Mesin pengolah sabut kelapa bervariasi mulai dari yang sangat sederhana sampai yang super canggih. Sistemnya ada dua, proses kering dan proses basah. Yang selama ini banyak digunakan untuk mengolah sabut adalah proses kering. Proses tersebut kalau disederhanakan, hanyalah berupa penghancuran sabut dan kemudian pemisahan antara serat dengan gabusnya.
Agroindustri sabut kelas Rp 100.000.000,- yang banyak bermunculan sejak tahun 1998, akhirnya banyak yang tutup. Kendalanya pada faktor pemasaran. Padahal permintaan serat sabut maupun coco dush tetap tinggi. Harganya juga cukup menarik. Mulai dari Rp 900,- per kg. grade I, Rp 700,- grade II, Rp 500,-grade III dan Rp 200,- untuk coco dushnya. Yang jadi masalah adalah, agroindustri tersebut tidak pernah dirancang dengan konsep yang matang. Lokasi yang dipilih, sebenarnya memang merupakan sentra kelapa yang cukup besar. Misalnya Banyuwangi di Jatim, Kebumen, Purwokerto dan Cilacap di Jateng, Ciamis dan Sukabumi di Jabar serta Pandeglang di Banten. Namun investor itu biasanya soliter. mereka hanya punya satu sampai dua mesin, kemudian bermaksud ekspor. Lokasi di Ciamis dan Pandeglang misalnya, sebenarnya memiliki potensi untuk 20 unit mesin dengan nilai investasi mencapai Rp 2 milyar. Masing-masing mesin kelas Rp 100.000.000,- hanya efisien untuk menangani sentra kelapa dengan radius 5 km. Jarak tersebut masih memungkinkan pemungut sabut untuk naik angkot, sepeda motor maupun sepeda. Seandainya jalan kaki pun masih kuat. Di atas radius 5 km. sabut harus diangkut dengan kendaraan khusus (pick up), hingga nilai bahan
Hasil yang diperoleh dari unit ini berupa serat kusut yang belum digrade. Untuk itu, diperlukan 1 unit mesin untuk grading, pres dan packing. Nilai mesin ini sudah di atas Rp 1.000.000.000,- per unit. Mesin demikian mampu melayani 20 unit mesin proses awal. Karenanya nilai investasi total untuk agroindustri sabut di Jawa bisa mencapai Rp 3.000.000.000,- Kalau program ini dipotong-potong, akan menjadi tidak efisien lagi. Sebab kalau hanya membangun mesin finishing tanpa 20 unit mesin untuk proses awal, maka mesin canggih tersebut akan menganggur. Kalau mesin-mesin kecil itu tanpa disertai mesin untuk finishing, maka hasilnya tidak bisa diekspor. Kalau kita investasi mesin canggih yang bisa memproses dari awal sampai siap ekspor, maka sebaran populasi kelapa yang tidak merata itu akan menjadi kendala. Sebab nilai bahan
Awal dari pengembangan sebuah agroindustri sabut kelapa, dimulai dengan survei. Baik survei lapangan untuk merancang produksi, maupun survei pasar. Survei lapangan meliputi penentuan volume sabut. Cara paling mudah untuk itu adalah, dengan mencegat di gerbang keluar sentra kelapa. Misalnya, untuk kawasan kab. Pandeglang dilakukan di jalan raya Pandeglang Serang. Sebab hampir seluruh volume kelapa dari kabupaten ini akan dipasarkan segar di
Dari hasil survei ini, sebenarnya kita sudah bisa merancang sebuah project proposal. Namun investor pasti masih mempertanyakan prospek pasarnya secara riil. Untuk itu diperlukan survei pasar. Untuk bisa menjangkau pasar ekspor salah satu cara termurah adalah dengan melacak melalui internet. Dari
Investor besar, biasanya hanya akan tertarik untuk menangani finishing dan ekspor. Hingga 20 unit mesin kecil harus kita tawarkan ke investor kecil. Untuk itulah harus dibuat sebuah program hulu hilir yang lengkap. Yang bisa mempertemukan investor besar dengan investor kecil, hanyalah pemerintah kabupaten atau provinsi. Karena biaya survei dan penyusunan project proposal juga cukup besar, sementara investor belum ada, maka seyogyanya dana survei ini ditanggulangi oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi. Ini merupakan biaya investasi yang akan terbayarkan setelah proyek berjalan, berupa retribusi, pajak dan bergeraknya roda ekonomi mikro. Ini semua baru akan bisa dijalankan apabila aparat pemerintah kabupaten dan provinsi sudah berubah dari pola KKN menjadi pola bisnis yang lebih rasional. Kalau mental aparat pemerintah kabupaten dan provinsi masih berbau KKN, maka yang akan terjadi adalah pemerasan terhadap para calon investor. (R) * * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar